Saturday, August 22, 2015

Pulau Kemaro

Pulau Kemaro
Pulau Kemaro - Objek Wisata di Palembang



Jika anda berkunjung ke Palembang jangan lewatkan untuk berkunjung ke tempat rekreasi yang sangat terkenal di sungai musi ini, “Pulau Kemaro”. Pulau ini memiliki daya tarik tersendiri untuk memikat pengunjung, baik tourists local maupun tourists luar. Selain tempat peribadahan umat budha, sekarang pulau ini telah menjelma menjadi tempat rekreasi yang cukup terkenal di Palembang. Pulau kemaro ini memiliki sebuah vihara cina yang sering disebut klenteng Hok Tjing Rio, dan ada juga kuil budha yang acap kali dikunjungi umat budha untuk berdoa dan berziarah di makam putri Palembang. dan pulau kemaro ini memiliki daya tarik special pada pagoda berlantai sembilang yang menjulang di tengah-tengah pulau, serta dengan adanaya pohon cinta pada pulai kemaro ini. Pulau ini juga selalu ramai pada saat tahun batu imlek, karena setiap tahunnya masyarakat selalu mengadakan acara Cap Go Meh di pulau ini.
Letak  Pulau Kemaro yang tidak terlalu jauh dari Jembatan Ampera, yaitu sekitar 6 km, serta berjarak sekitar 40 km dari kota Palembang ini, ternyata menyimpan cerita legenda yang sangat menakjubkan. Seorang pangeran dari negeri cina, yang bernama Tan Bun An datang ke Palembang untuk berdagang. Hingga suatu hari ia bertemu dengan putri raja yang bernama Siti Fatimah, saat ia hendak meminta izin pada raja Palembang. Sepasang sejoli ini langsung jatuh hati pada pertemuan mereka yang pertama. Merakapun menjadi sepasang kekasih dan berniat untuk menikah. Hingga Tan Bun An mengajak Siti Fatimah ke cina untuk bertemu dengan orang tuanya. Setelah mereka bertemu dengan orang tua Tan Bun An, mereka pulang dengan tujuh guci yang berisikan emas, hadiah dari orang tua Tan Bun An. Sesampainya di muara sungai musi, Tan Bun An penasaran dan ingin melihat hadiah-hadiah dari orang tuanya tersebut. Dan saat dia melihat isi dari guji tersebut, Tan Bun An sangat kaget dan kesal. Ternyata isi dari guci tersebut adalah sayur sawi-sawi asin. Tanpa berpikir panjang iapun langsung membuang guci-guci tersebut ke dalam sungai musi, tetapi saat membuang guci terakhir, guci tersebut terjatuh di atas dek dan pecah, yang ternyata berisikan emas. Sehingga Tan Bun An langsung terjun ke sungai, untuk mengambil emas-emas tersebut dengan dibantu seorang pegawainya. Tetapi ternyata Tan Bun An dan pegawainya tersebut tak kunjung muncul dari dalam sungai, sehingga Siti Fatimah ikut terjun ke dalam sungai tersebut. Karena itu, untuk mengenang kisah mereka, di Pulau Kemaro dibangunlah sebuah kuil dan makam untuk tiga orang tersebut.